Poliklinik VCT

Poliklinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) RS TK.II Pelamonia adalah fasilitas layanan kesehatan terpadu yang menyediakan layanan konseling dan tes HIV/AIDS serta Infeksi Menular Seksual (IMS) secara sukarela dan rahasia.

Klinik ini berdedikasi untuk memberikan dukungan psikologis, medis, dan edukasi bagi prajurit TNI, keluarga, serta masyarakat umum. Dengan pendekatan yang humanis dan tanpa stigma, tim medis yang terdiri dari dokter, konselor terlatih, dan perawat berkomitmen untuk membantu masyarakat dalam upaya deteksi dini, pencegahan, serta pendampingan pengobatan secara berkelanjutan.

Prinsip Utama Layanan VCT

Seluruh prosedur di Poliklinik VCT RS TK.II Pelamonia dijalankan berdasarkan prinsip 5C standar Kementerian Kesehatan RI dan WHO:

  • Consent: Pemeriksaan dilakukan atas dasar persetujuan pasien tanpa paksaan.
  • Confidentiality: Menjamin kerahasiaan identitas, riwayat medis, dan hasil tes pasien.
  • Counseling: Menyediakan pendampingan psikologis sebelum dan sesudah tes.
  • Correct Test Results: Menggunakan metode pengujian laboratorium yang akurat dan berstandar tinggi.
  • Connection to Care: Menghubungkan pasien dengan layanan perawatan, dukungan, dan pengobatan (ARV) jika diperlukan.

Fokus Layanan dan Tindakan Medis

Layanan yang diberikan di Poliklinik VCT bersifat komprehensif, mulai dari pencegahan hingga pengobatan jangka panjang:

1. Konseling Pra-Tes (Pre-Test Counseling)

Sesi diskusi pribadi antara pasien dan konselor sebelum pengambilan darah dilakukan.

  • Edukasi dasar mengenai HIV/AIDS dan IMS.
  • Penilaian faktor risiko berdasarkan riwayat medis dan gaya hidup.
  • Mempersiapkan mental pasien dalam menghadapi hasil tes.
  • Penandatanganan Informed Consent (persetujuan tindakan).

2. Pengujian Laboratorium (Testing)

Pemeriksaan darah deteksi dini menggunakan metode Rapid Test atau reagen standar lainnya untuk mendapatkan hasil yang cepat dan akurat.

  • Skrining antibodi HIV.
  • Skrining Sifilis dan Hepatitis B.

3. Konseling Pasca-Tes (Post-Test Counseling)

Penyampaian hasil tes secara tatap muka dan tertutup oleh konselor.

  • Jika hasil Non-Reaktif (Negatif): Konselor akan memberikan edukasi pencegahan untuk mempertahankan status negatif dan menjelaskan mengenai masa jendela (window period).
  • Jika hasil Reaktif (Positif): Konselor memberikan dukungan emosional, informasi medis lanjutan, dan mempersiapkan pasien untuk memulai terapi pengobatan.

4. Layanan PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan)

Bagi pasien dengan hasil reaktif, poliklinik menyediakan layanan lanjutan yang berfokus pada kualitas hidup pasien.

  • Pemeriksaan fisik menyeluruh dan evaluasi infeksi oportunistik (seperti TBC paru atau jamur).
  • Inisiasi dan penyediaan terapi obat Antiretroviral (ARV).
  • Pemantauan kepatuhan minum obat dan evaluasi respons terapi (pemeriksaan CD4 atau Viral Load).
  • Pendampingan psikologis berkelanjutan.

5. Program PPIA (Pencegahan Penularan Ibu ke Anak)

Dikenal juga sebagai PMTCT (Prevention of Mother-to-Child Transmission), layanan ini difokuskan pada ibu hamil.

  • Skrining “Triple Eliminasi” (HIV, Sifilis, dan Hepatitis B) untuk ibu hamil.
  • Pemberian ARV profilaksis untuk ibu hamil dengan status HIV positif guna melindungi janin.
  • Konseling persalinan dan pemberian nutrisi yang aman bagi bayi lahir dari ibu positif HIV.

6. Penanganan Infeksi Menular Seksual (IMS)

Diagnosis dan pengobatan komprehensif untuk berbagai keluhan IMS seperti Gonore, Sifilis, Herpes Genital, dan lain-lain, yang seringkali menjadi pintu masuk penularan HIV.

Fasilitas Penunjang Medis

Layanan VCT di RS TK.II Pelamonia terintegrasi dengan berbagai unit lain untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan paripurna:

  • Laboratorium Patologi Klinik: Untuk pemeriksaan darah cepat (Rapid Test), evaluasi fungsi organ sebelum memulai ARV, dan pemeriksaan penunjang lainnya.
  • Instalasi Farmasi/Apotek: Penyediaan obat Antiretroviral (ARV) dan obat-obatan untuk infeksi penyerta secara teratur dan terjadwal.
  • Poliklinik Paru (DOTS): Terintegrasi untuk penanganan pasien koinfeksi HIV-TBC (Tuberkulosis).
  • Poliklinik Kebidanan dan Kandungan (KIA): Untuk sinergi program penanganan ibu hamil berisiko (PPIA/Triple Eliminasi).
Skip to content